Persepsi
Bismillah
Sudah tahu kah Anda, agar bisa melakukan perubahan secara nyata dengan efektif, maka kita musti memiliki pola pikir yang paling tepat mengenai kemampuan dasar seorang manusia.
Karena Manusia itu memang seperti yang Anda pikirkan,
Ketika Anda menilai manusia itu mampu atau sebaliknya itu tidak salah. Karena penilaian prihal adanya kemampuan atau tidak adalah sebuah persepsi yang terbentuk dari cara dan kemampuan kita menilai dan memikirkan respons dari orang terhadap kejadian atau tantangan yang dihadapi..
"Contohnya bagaimana, mas?"
Misalnya pengalaman sederhana saya, ya
Saya Dulu pernah memiliki pengalaman ketika belajar salah satu ilmu menulis iklan dengan seseorang, Setiap belajar guru saya itu berujar, "ilmu marketing utamanya menuliskan itu susah." ini terucap terus pada setiap sesi belajar, dan sebagai orang yang mudah penasaran saya langsung bertanya maksud dari kata susah yang disampaikan..
Guru saya berpikir betapa sulitnya saya DIVA (tuna netra) harus menulis. Dan saya bisa memahami sudut pandang guru saya, dan dari situ saya termotivasi sekaligus membayangkan, betapa bersyukurnya jika saya mampu menuliss..
Saya akan menulis untuk menuangkan isi pikiran dan untuk menciptakan peluang. Karena mungkin kita menyadari keadaan terus bergulir dan perubahan yang tak masuk ekspektasi malah terjadi.
Saya sadar tunanetra yang saya alami seharusnya tidak membatasi pola pikir.
Saya bahkan Anda harus mengupayakan untuk memandang keterbatasan, sulitnya gerak dan segala rumitnya benang hidup yang kusut dan menekan kita untuk diurai. Adalah potensi untuk menggali kemampuan diri untuk mengurai benang kusut itu, dan yakin setiap upaya akan berdampak.
Singkatnya,
Bila kita ingin memfasilitasi perubahan positif kepada orang lain atau diri sendiri dengan pendekatan support utamanya untuk skill, kita musti mengubah pendapat kita mengenai kemampuan dan keikhlasan diri serta orang tersebut. Apa pun yang kita pikirkan tentang orang tersebut maka akan tercermin dari sikap kita kepadanya, baik kita sadari atau tidak, dan hal ini akan membawa dampak yang sangat besar terhadapnya, dan progressnya.
Bagaimana kita bisa memberi manfaat untuk orang lain menjadi lebih baik kalau pikiran kita tentang dia sudah pesimis?
Lalu apa yang harus dibangun jika sedang men-support dan di support? Jawabnya sederhana.
Berikan kesempatan dan doa dan komunikasi dengan mengedepankan rasa melengkapi dalam hidup dan sesama manusia..
Dengan begini, kita akan dapat bersinergi dan akan bisa menciptakan kesempatan dengan lebih luas dan totalitas.
Nah, coba berlahan renungi
sudahkah kita mengerti bahwa kemampuan dan kesempatan bahkan kehidupan yang lebih baik itu memang dapat diraih.
Semangat tebar manfaat, ya
#CatatanMuhasabah
"Apa pun yang terjadi hari ini, ingatlah bahwa kesulitan dan rasa sakit adalah cara Allah (Sang Pencipta), untuk membuat diri tegar dan semakin kuat nantinya. Sejatinya rasa sakit bukannya membuat kita terpuruk, tapi membuat rasa sakit itu sebagai kekuatan yang mendorong Kita agar bangkit dari keterpurukan."
Karena kita memahami,
Segala lebih adalah kesadaran untuk terus menjemput kebaikan, segala kurang adalah kesempatan untuk menggali potensi dan sumberdaya diri.
Jangan biarkan keterbatasan halangi untuk terus menyusun dan meraih mimpi apalagi membuat lemah daya juang kita.
Semoga Bermanfaat
©HadiEdukasi
#SalamSehatTanpaBatas
Posting Komentar untuk "Persepsi"
Posting Komentar